Mojokerto,Timeofjava.com
Sumardi menegaskan bahwa tujuan utama program MBG sangatlah positif untuk meningkatkan gizi generasi penerus. Oleh karena itu, investigasi tuntas diperlukan agar kesalahan teknis tidak mencederai visi besar program pemerintah tersebut
Menanggapi insiden keracunan massal yang menimpa 261 orang penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto, Anggota Komisi A, DPRD Jawa Timur, Sumardi memberikan respons tegas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Legislator Jatim tersebut menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.
Sumardi menegaskan pentingnya pemeriksaan mendalam terhadap seluruh rantai produksi makanan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga alur pengolahan di dapur.
Berdasarkan data lapangan, tercatat 261 warga terdampak akibat mengonsumsi menu berupa soto ayam yang disediakan.
“Perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap proses yang ada di SPPG, mulai dari alur masak hingga kandungan nutrisi dalam menu tersebut. Masalah kesehatan anak-anak adalah prioritas yang tidak boleh dianggap sepele,” uajar politisi Golkar yang karib disapa Cak Sumardi itu saat meninjau pasien keracunan, pada Ahad (11/1/2026).
Selain kualitas bahan, ia juga meminta untuk memperhatikan aspek teknis seperti durasi antara waktu memasak dan penyajian.
Ketepatan waktu dinilai penting karena perubahan suhu dan durasi penyimpanan dapat memicu pertumbuhan bakteri atau perubahan kandungan kimia dalam makanan.
“Meninjau kembali penerapan Standard Operational Procedure (SOP) yang seharusnya sudah diatur dalam regulasi teknis memasak dan harus mengantisipasi perubahan rasa dan kandungan makanan yang bersifat instan atau diproduksi secara massal,” urainya.
Ia juga meminta eksekutif untuk mencari benang merah permasalahan untuk menentukan apakah terjadi kelalaian dalam pelaksanaan di lapangan.
Sumardi menegaskan bahwa tujuan utama program MBG sangatlah positif untuk meningkatkan gizi generasi penerus. Oleh karena itu, investigasi tuntas diperlukan agar kesalahan teknis tidak mencederai visi besar program pemerintah tersebut.
“Jangan sampai program yang tujuannya sangat baik ini terhambat oleh kebijakan atau pelaksanaan yang tidak tepat. Harus ada langkah hukum dan administratif jika ditemukan kesalahan fatal agar kejadian ini menjadi pelajaran bersama,” pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melakukan investigasi mendalam terkait insiden keracunan massal yang menimpa ratusan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun hingga Ahad (11/1/2026), total korban tercatat mencapai 261 orang.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, saat meninjau kondisi korban di Pondok Pesantren Ma’had An Nur dan RSUD Prof. dr. Soekandar, memaparkan rincian data penanganan medis para korban.
Dari total 261 warga yang terdampak, mencakup siswa hingga orang tua siswa, sebanyak 140 orang telah dinyatakan pulih dan kembali ke rumah masing-masing. Sementara 121 pasien masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Mojokerto.
“Saat ini, fokus utama adalah penanganan medis bagi 121 pasien yang masih menjalani perawatan intensif. Sebanyak 121 orang tersebut tersebar di beberapa titik, termasuk di pondok pesantren, rumah sakit, dan Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM),” ujar Emil, Ahad (11/1/2026).
Emil menjelaskan bahwa langkah medis prioritas yang diambil adalah prosedur rehidrasi melalui pemberian cairan infus untuk menjaga stabilitas kondisi fisik pasien.
Selain itu, pemberian obat-obatan penunjang seperti zinc dilakukan guna mempercepat proses pemulihan fungsi pencernaan pasien yang mayoritas mengalami gejala mual akut.
Terkait penyebab keracunan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tengah melakukan investigasi epidemiologi terhadap menu soto ayam yang dikonsumsi pada Jumat (9/1/2026). Penelusuran juga difokuskan pada rantai pasok dan prosedur pengolahan bahan pangan.
Pemprov Jatim menemukan fakta yang tak wajar, yakni korban tetap mengalami keracunan meski hanya mengonsumsi bagian tertentu dari menu soto ayam MBG. Seperti daging ayam bahkan hanya telur saja.
“Kami menemukan pola bahwa korban tetap terdampak meskipun hanya mengonsumsi bagian tertentu, seperti daging ayam saja atau telur saja. Ini menjadi data krusial untuk menemukan akar permasalahan,” tegas Emil.
Saat ini dinas kesehatan disebutnya juga sedang menguji beberapa hipotesis teknis, di antaranya evaluasi terhadap bahan baku yang dipersiapkan pada H-1 sebelum penyajian dan pemeriksaan pada proses pengemasan dan apakah terdapat kontaminasi pada cangkang telur yang disimpan dalam satu wadah dengan bahan lain.
Insiden ini menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengevaluasi secara menyeluruh sistem pengawasan mutu dalam program Makan Bergizi Gratis.
Wagub Emil menekankan bahwa hasil investigasi ini akan dijadikan landasan dalam penyempurnaan standar operasional prosedur (SOP) penyediaan pangan bagi masyarakat ke depannya. (Goyek)
Penulis : Goyek







