TIMEOFJAVA.COM, JOMBANG — Di tengah kota yang dikenal sebagai “kota santri”, multikulturalisme ternyata tak hanya hidup di dalam pesantren atau forum keagamaan. Ia juga hadir di atas meja makan, tersaji dalam sepiring nasi kebuli yang berpadu aroma rempah khas Arab, seporsi lontong cap go meh yang menyimpan jejak akulturasi Tionghoa-Jawa, dan jajanan manis khas Imlek yang diadaptasi dengan selera lokal. Jombang bukan hanya rumah bagi keragaman keyakinan, tapi juga ladang subur bagi pertemuan budaya lewat kuliner.
Tidak jauh dari alun-alun kota, sebuah warung sederhana milik Bu Lilis (49) setiap pagi menyajikan menu yang tak biasa bagi sebuah warung rumahan Jawa. Selain nasi pecel dan rawon, pengunjung juga bisa menemukan nasi kebuli dengan irisan daging kambing empuk, dilengkapi sambal nanas dan acar. Menu itu telah dijualnya sejak 2010. “Suami saya keturunan Arab. Dulu saya belajar masaknya dari ibu mertua. Sekarang malah jadi menu favorit pembeli dari mana-mana,” ujarnya sambil tersenyum.
Yang menarik, resep yang dipakai Bu Lilis tak lagi orisinal seperti versi Yaman atau Timur Tengah. Ia telah bertransformasi—lebih ringan rempahnya, disesuaikan dengan lidah Jawa, bahkan disajikan dengan kerupuk udang. Inilah bentuk akulturasi paling nyata: resep lintas benua yang menyesuaikan diri dengan kearifan lokal, tanpa kehilangan jati dirinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal serupa juga bisa ditemukan di kawasan Mojoagung, salah satu daerah di Jombang yang memiliki komunitas Tionghoa cukup aktif. Setiap perayaan Cap Go Meh, keluarga Tionghoa-Jawa di sana membuat lontong cap go meh, makanan khas yang dulunya hanya disajikan pada malam ke-15 Imlek. Namun kini, lontong cap go meh hadir tidak hanya saat perayaan, tapi bisa ditemukan di beberapa rumah makan harian. Kombinasi lontong, opor ayam, telur pindang, sayur lodeh, dan sambal goreng ati, adalah contoh harmonisasi rasa antara tradisi Tionghoa dan cita rasa khas Jawa.
Menurut Deni Santoso (38), salah satu generasi ketiga Tionghoa-Jawa di Mojoagung, makanan adalah medium kompromi budaya yang paling damai. “Kita enggak harus bicara politik atau agama untuk bisa duduk bersama. Cukup makan lontong cap go meh atau kue keranjang goreng bareng, semua bisa nyambung,” ujarnya.
Kue keranjang, atau nian gao, juga jadi bukti lain bagaimana kuliner Tionghoa berbaur dalam keseharian masyarakat Jombang. Di tangan ibu-ibu kampung, kue keranjang tak hanya dikukus, tapi digoreng dengan balutan adonan pisang atau tepung beras seperti pisang goreng. Hasilnya adalah camilan yang digemari lintas etnis, dari santri hingga warga biasa, bahkan sering hadir dalam perayaan Maulid Nabi atau selamatan keluarga Jawa.
Fenomena ini tak lepas dari sejarah panjang Jombang sebagai simpul pertemuan etnis dan budaya. Sejak masa kolonial, Jombang menjadi tempat bermukimnya berbagai komunitas: santri-priyayi Jawa, pedagang Tionghoa, keluarga keturunan Arab, dan kelompok etnis Madura. Perjumpaan ini lambat laun membentuk lanskap budaya yang unik—tidak saling meniadakan, tapi melebur dan membentuk sesuatu yang baru. Makanan menjadi salah satu ekspresi paling nyata dari peleburan itu.
Dalam pandangan antropolog kuliner dari Universitas Negeri Surabaya, Dr. Nanik Retnowati, akulturasi kuliner di Jombang mencerminkan dinamika sosial yang lentur dan adaptif. “Apa yang kita lihat di piring-piring orang Jombang hari ini adalah hasil proses panjang pergaulan antarkelompok. Makanan menjadi jembatan yang menghubungkan identitas, bukan memisahkan,” jelasnya.
Ia mencontohkan bagaimana nasi kebuli, yang awalnya lekat dengan tradisi keagamaan masyarakat Hadrami, kini menjadi makanan umum yang disukai semua kalangan. “Bahkan ada versi nasi kebuli vegetarian di warung pesantren. Ini luar biasa. Di situ terlihat bagaimana nilai-nilai budaya bisa diteruskan dengan cara kreatif,” tambahnya.
Dalam konteks ini, kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga ingatan, adaptasi, dan toleransi. Saat seseorang menyantap kue keranjang goreng di tengah suasana Maulid, atau nasi kebuli dalam acara tahlilan, tanpa sadar mereka sedang melestarikan tradisi lintas budaya yang hidup dalam harmoni.
Bagi warga Jombang, keanekaragaman kuliner bukanlah hal yang luar biasa—ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebuah warung bisa menyajikan nasi rawon di satu sisi dan sate kambing bumbu kebuli di sisi lain. Dalam satu meja makan, bisa duduk bersama keluarga Jawa, keturunan Tionghoa, dan Arab, berbagi cerita dan makanan tanpa sekat.
Inilah wajah Jombang yang jarang disorot: kota santri yang sekaligus kota rasa. Di mana nilai-nilai luhur tak hanya diajarkan di pesantren, tapi juga diterjemahkan lewat semangkuk makanan. Karena pada akhirnya, makanan adalah bahasa universal yang bisa menuturkan sejarah, menyatukan perbedaan, dan merayakan kemanusiaan.
Jombang, dalam senyapnya, mengajarkan bahwa multikulturalisme tak harus selalu diteriakkan di jalan. Kadang, cukup ditaruh di atas meja. Lalu dicicipi bersama, selapis demi selapis.[]
Penulis : Budi







