TIMEOFJAVA, JOMBANG — Di sebuah sudut Pasar Cukir, menjelang pukul enam pagi, seorang perempuan paruh baya tengah merapikan bungkusan daun pisang berisi grontol jagung. Uap hangat masih mengepul dari panci besar yang dipanaskan di atas tungku arang. Namanya Bu Yah, usia 63 tahun, salah satu dari sedikit penjual jajanan lawas yang tersisa di pasar tradisional ini.
“Sekarang jarang yang cari grontol,” ucapnya lirih. “Anak-anak muda lebih suka jajanan kekinian. Yang pakai keju, cokelat, atau topping warna-warni. Padahal dulu, grontol itu rebutan.”
Grontol jagung, camilan sederhana dari jagung tua yang direbus dan diberi kelapa parut serta sedikit garam, kini mulai menghilang dari peredaran. Begitu pula dengan serabi ontong—pancake tradisional berbasis tepung beras yang dibakar dengan tungku tanah liat, dan disiram santan gula merah. Belum lagi lemet singkong, kue dari parutan singkong yang dikukus bersama gula merah dan kelapa, dibungkus daun pisang. Semuanya dulunya biasa ditemukan di pasar-pasar desa, kini harus dicari dengan susah payah, bahkan nyaris punah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jajanan pasar di Jombang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Tak hanya pengganjal perut pagi hari, tapi juga bagian dari identitas lokal yang kuat. Di hajatan, selamatan, bahkan upacara spiritual, jajanan ini punya tempat istimewa. Tapi kini, peran itu mulai bergeser.
Menurut Nur, dosen antropologi budaya dari IAIN Kediri yang meneliti budaya konsumsi masyarakat Jawa Timur, perubahan ini berkaitan erat dengan pergeseran pola hidup dan preferensi generasi muda. “Anak muda hari ini tumbuh di tengah gempuran makanan cepat saji, tren kuliner digital, dan cita rasa instan. Jajanan pasar seperti grontol atau lemet tak hanya kalah populer, tapi juga mulai dianggap kuno,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perubahan gaya hidup urban dan masuknya budaya visual di media sosial ikut mempercepat hilangnya daya tarik jajanan tradisional. “Kita hidup di era makanan yang harus ‘instagramable’. Kue lemet atau serabi ontong kalah tampak menarik dibandingkan donat pelangi atau boba milk tea,” jelasnya.
Bahkan di lingkungan pesantren sekalipun—yang selama ini dikenal sebagai penjaga tradisi—jajanan pasar mulai tergeser oleh roti tawar modern, biskuit, dan minuman kemasan. Para pedagang kecil yang dulu menggantungkan hidup dari membuat kudapan lawas kini berpindah menjual makanan yang lebih ‘laku’. Beberapa bahkan berhenti total karena anak-anak mereka enggan meneruskan usaha yang dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi.
Namun tidak semua orang menyerah. Di Desa Ploso, seorang ibu rumah tangga bernama Sri Wahyuni (52) justru mencoba bertahan dengan cara baru. Ia menjual serabi ontong dan lemet secara online melalui grup WhatsApp dan Facebook lokal. Foto-foto kuenya ditata rapi, dibungkus menarik, dan diberi label “Jajanan Kenangan”.
“Yang beli kebanyakan orang-orang usia 40 ke atas, yang rindu makanan masa kecil. Mereka bilang rasanya membawa mereka ke masa lalu,” tutur Sri. “Tapi saya juga coba buat anak-anak suka, jadi saya beri variasi topping seperti meses atau keju parut, walau tetap pakai adonan lama.”
Usaha Sri mendapat sambutan positif, terutama dari pelanggan yang mencari keaslian rasa. Bahkan beberapa kue buatannya kini sering dipesan untuk acara nostalgia sekolah, reuni keluarga, hingga pelatihan kuliner tradisional yang digelar oleh dinas pariwisata.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jombang sendiri telah mulai memperhatikan isu ini. Melalui program pelatihan kewirausahaan dan festival kuliner daerah, mereka berusaha mengenalkan kembali jajanan pasar kepada masyarakat luas, khususnya anak muda.
“Kami mencoba mengangkat kembali kuliner lokal, bukan hanya karena potensi ekonominya, tapi juga karena nilai budayanya. Setiap kudapan tradisional menyimpan cerita, teknik, bahkan filosofi hidup,” ujar Kepala Seksi Pelestarian Budaya. Ia menambahkan bahwa pemerintah juga tengah menyiapkan katalog digital jajanan tradisional Jombang sebagai bagian dari upaya dokumentasi dan edukasi.
Langkah ini penting mengingat banyak dari pembuat jajanan lawas tidak memiliki dokumentasi tertulis. Resep mereka diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Ketika para pembuat asli mulai menua, dan generasi muda tidak tertarik melanjutkan, maka hilang pula sebagian warisan budaya itu.
Kini, menyantap kue grontol atau lemet tidak lagi sekadar soal rasa. Ia adalah pengalaman sejarah, nostalgia, dan bentuk penghormatan terhadap budaya lokal yang mulai tergeser arus zaman. Di balik setiap suapan, ada tangan-tangan tua yang terampil, cerita keluarga, dan memori kolektif masyarakat Jombang yang harus terus dihidupkan.
“Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi?” tanya Bu Yah lirih, sambil menyuapkan grontol ke daun pisang yang hangat. Di matanya, jajanan itu bukan sekadar makanan, tapi kenangan—dan identitas—yang tidak boleh hilang begitu saja.







