Malang, Timeofjava.com
Jawa Timur – Kota Malang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan terkemuka di Indonesia. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah datang untuk menimba ilmu, membawa energi muda yang kreatif, progresif, dan penuh semangat. Namun, di balik hiruk-pikuk kehidupan akademik dan organisasi, muncul fenomena yang mulai mengakar: hustle culture, atau budaya sibuk yang menempatkan produktivitas sebagai tolok ukur utama nilai diri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Regita Aulia Istiningtyas, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya Malang, menjadi saksi langsung dari fenomena ini. Menurutnya, “Di kalangan mahasiswa dan generasi Z di Malang, kesibukan bukan sekadar rutinitas. Semakin padat jadwal, semakin tinggi legitimasi sosial seseorang. Bahkan waktu istirahat sering dianggap kemewahan.”
Regita menjelaskan, budaya ini diperkuat oleh media sosial. “Mahasiswa terus-menerus membandingkan diri mereka dengan teman-teman lain. Jadwal kuliah, rapat organisasi, kerja paruh waktu, hingga kegiatan sosial ditampilkan sebagai bukti kesuksesan. Akibatnya, siapa yang tidak terlihat sibuk, sering merasa tertinggal.”
Fenomena ini, lanjut Regita, juga memengaruhi persepsi kesehatan. Banyak generasi muda yang menormalisasi kelelahan. “Kelelahan, stres, dan gangguan tidur dianggap harga yang wajar untuk masa depan. Padahal, ini bisa menimbulkan masalah psikologis dan fisik jika tidak diatasi,” jelasnya.
Dari perspektif sosiologi kesehatan, hal ini sejalan dengan konsep sick role yang dikemukakan Talcott Parsons. Dalam budaya hustle, toleransi terhadap kondisi fisik dan mental yang menurun semakin sempit. “Sakit diperbolehkan, selama tidak mengganggu produktivitas dan pencapaian target,” ujar Regita.
Konsekuensinya, mahasiswa sering memaksakan diri, mengabaikan tanda-tanda stres atau kelelahan kronis.
Tidak hanya itu, fenomena ini juga bisa dianalisis melalui teori Max Weber tentang rasionalitas modern. Waktu dipandang sebagai aset yang harus dimaksimalkan. Semakin banyak aktivitas yang dijalani, semakin tinggi legitimasi sosial yang diperoleh. Sementara teori dramaturgi Erving Goffman menjelaskan bagaimana mahasiswa membangun citra diri di panggung publik media sosial, menampilkan versi diri yang selalu kompeten, aktif, dan produktif.
“Kalau dilihat di media sosial, kehidupan teman-teman saya tampak sempurna, serba produktif. Tapi di balik layar, banyak yang merasa kelelahan emosional. Ada kecemasan ketika tidak memiliki kegiatan, bahkan rasa bersalah saat sedang beristirahat,” ungkap Regita.
Hustle culture juga mendorong budaya perbandingan (compare culture). Standar keberhasilan menjadi relatif dan terus meningkat. Di Malang, persaingan tidak hanya terjadi di ranah akademik, tetapi juga dalam pengumpulan pengalaman non-akademik, seperti lomba, magang, kegiatan sukarela, hingga usaha mandiri. Semua dilakukan demi meningkatkan daya saing dan pengakuan sosial.
Menurut Regita, masalah ini bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga struktural. “Perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, dan komunitas kerja memiliki peran strategis. Penataan beban akademik yang realistis, penghargaan terhadap waktu istirahat, dan dukungan terhadap kesehatan mental adalah langkah penting untuk mengurangi tekanan berlebih,” katanya.
Di sisi lain, Regita menekankan bahwa produktivitas yang berkelanjutan sejatinya bukan diukur dari banyaknya aktivitas, melainkan dari keseimbangan antara pencapaian dan kesejahteraan. “Malang memiliki peluang besar menjadi kota pendidikan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berorientasi pada kemanusiaan dan kesehatan mental generasi mudanya,” pungkasnya.
Fenomena hustle culture di Malang menegaskan satu hal: kehidupan bukanlah kompetisi untuk terlihat paling sibuk. Kesadaran, keseimbangan, dan penghargaan terhadap batas kemampuan manusia adalah kunci agar produktivitas tetap sehat dan berkelanjutan.(Red)







